{"id":73,"date":"2019-04-06T19:33:14","date_gmt":"2019-04-06T19:33:14","guid":{"rendered":"http:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=73"},"modified":"-0001-11-30T00:00:00","modified_gmt":"-0001-11-29T17:00:00","slug":"\"Kader-PDI-Perjuangan-Membuat-Puisi-yang-Terkesan-Mendeskreditkan-Islam\"","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=73","title":{"rendered":"&#8220;Kader PDI Perjuangan Membuat Puisi yang Terkesan Mendeskreditkan Islam&#8221;"},"content":{"rendered":"<div>\n<div class=\"box\"><!-- Blog-item --><\/p>\n<div class=\"blog-item\">\n                        <a href=\"#\" class=\"blog-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/stophoax.id\/storage\/app\/uploads\/public\/5ac\/d8e\/ae0\/5acd8eae09e40009142731.png\" onerror=\"this.src='https:\/\/stophoax.id\/themes\/hoax-pedia\/assets\/images\/default.png'\" alt=\"\u00e2\u20ac\u0153Kader PDI Perjuangan Membuat Puisi yang Terkesan Mendeskreditkan Islam\"\" \/><\/a><\/p>\n<h1 class=\"blog-name f-35\">\u00e2\u20ac\u0153Kader PDI Perjuangan Membuat Puisi yang Terkesan Mendeskreditkan Islam&#8221;<\/h1>\n<ul class=\"post-date\">\n<li>By <a href=\"#\">SiberKreasi<\/a><\/li>\n<li>Apr 06, 2018<\/li>\n<li>\n                                                                <a href=\"https:\/\/stophoax.id\/blog\/category\/disinformasi\">DISINFORMASI<\/a>,                                                                 <a href=\"https:\/\/stophoax.id\/blog\/category\/mafindo\">MAFINDO<\/a>                                                            <\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"blog-caption m-t-20\">\n<div class=\"blog-txt\">\n<p>Puisi tersebut adalah karya KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) pada tahun 1987 berjudul \u00e2\u20ac\u0153Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana&#8221;, bukan buatan Ganjar Pranowo seperti yang disebutkan di narasi post tersebut.<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p><strong>KATEGORI<\/strong><br \/>\nDisinformasi.<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p><strong>SUMBER<\/strong><\/p>\n<p>(1) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2qeK9ks\">http:\/\/bit.ly\/2qeK9ks<\/a>, akun Instagram @faktanyamuslim.<br \/>\n(2) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2GFeZxI\">http:\/\/bit.ly\/2GFeZxI<\/a>, sudah dibagikan 19,577 kali per tangkapan layar dibuat.<br \/>\n(3) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2qfc7fN\">http:\/\/bit.ly\/2qfc7fN<\/a>, akun-akun lainnya yang membagikan di Facebook (public posts).<br \/>\n(4) Cuitan oleh akun Twitter @agungizzulhaq (sudah dihapus dan diklarifikasi per post ini disusun).<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p><strong>NARASI<\/strong><\/p>\n<p>(1) @faktanyamuslim: \u00e2\u20ac\u0153Lagi dan lagi, kader PDI Perjuangan membuat puisi yang terkesan mendeskreditkan Islam.<\/p>\n<p>Ganjar Pranowo, yang saat ini sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Tengah menyebutkan di dalam puisinya: \u00e2\u20ac\u0153Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat&#8221;.<br \/>\n.<br \/>\nKetahuilah, panggilan Adzan itu panggilan Allah kepada hambanya, bukan memanggil Allah \u00f0\u0178\u02dc\u201e<\/p>\n<p>Kenapa, kader PDI-P selalu menjadi provokator antar umat beragama.<\/p>\n<p>Apabila panggilan shalat dikumandangkan, maka setan akan lari terbirit-birit sambil terkentut-kentut hingga ia tak lagi mendengar (suara) adzan tersebut, maka apabila adzan telah selesai dikumandangkan ia akan kembali, &amp; apabila iqamah dikumandangkan setan akan segera berpaling, jika iqamah telah selesai dikumandangkan ia akan kembali lagi (untuk mengganggu manusia) hingga ia membersitkan dalam hati seseorang dgn mengatakan &#8216;Ingatlah hal ini &amp; itu&#8217; dari hal-hal yg sebelumnya tak ia ingat. Abu Muhammad berkata; Tsuwwiba maksudnya adl didirikan. [HR. Darimi No.1178].<br \/>\n.<br \/>\n.<br \/>\n@faktanyamuslim<br \/>\n#faktanyamuslim&#8221;.<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(2) \u00e2\u20ac\u0153Satu lagi nih muncul!!<\/p>\n<p>Ya Allah&#8230;<br \/>\nKiamat itu semakin dekat&#8230;<br \/>\nTanda-tandanya bermunculan tiap hari&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(3) Variasi narasi lainnya.<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p><strong>PENJELASAN<\/strong><\/p>\n<p>Puisi berjudul \u00e2\u20ac\u0153Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana&#8221; oleh KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibuat pada tahun 1987 adalah salah satu puisi yang ada di buku \u00e2\u20ac\u0153Ohoi: Kumpulan Puisi-puisi Balsem&#8221; terbitan tahun 1988.<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><\/p>\n<p>(1) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2qjEUA3\">http:\/\/bit.ly\/2qjEUA3<\/a>, \u00e2\u20ac\u0153nanto&#8217;s Reviews &gt; Ohoi: Kumpulan Puisi-puisi Balsem<\/p>\n<p>Ohoi: Kumpulan Puisi-puisi Balsem<br \/>\nby A. Mustofa Bisri<br \/>\nnanto&#8217;s review Mar 02, 2008<br \/>\nbookshelves: langut-bersama-secangkir-kopi, poezie<\/p>\n<p>Puisi Balsem, dinamakan demikian karena konon setelah membacanya serasa hangat selayaknya diolesi balsem. Sekaligus juga kehangatan itu menggugah dan mengurangi rasa sakit. Begitu sekilas yang didapat dari pengantar buku ini.<\/p>\n<p>Selebihnya puisi yang nakal dan sekaligus jenaka dari Gus Mus. Pertama kenal dari seorang senior. Salah satu puisi dalam buku ini, \u00e2\u20ac\u0153aku ini bagaimana atau aku harus bagaimana&#8221;, jadi isi dalam salah satu selebaran yang dibuat dalam rangka menyoroti masalah NKK\/BKK yang sedang dikerjakan. Puisi itu dikutip untuk menggambarkan kebingungan mahasiswa dalam bergiat di lingkungan kampus dengan aturan yang ada saat itu. Selebihnya banyak lagi puisi yang bisa dibaca sambil tak sadar kita senyum, entah dikulum, entah getun, yang jelas semua puisinya seperti balsem: hangat dan mengobati.<\/p>\n<p>Asal jangan salah oles mungkin yah!<\/p>\n<p>Selengkapnya puisi tersebut di atas saya kutip dibawah ini.<\/p>\n<p>Kau ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana<br \/>\n(A. Mustofa Bisri)<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nKau bilang aku merdeka<br \/>\nKau memilihkan untukku segalanya<br \/>\nKau suruh aku berpikir<br \/>\nAku berpikir kau tuduh aku kapir<br \/>\nAku harus bagaimana?<\/p>\n<p>Kau bilang bergeraklah<br \/>\nAku bergerak kau curigai<br \/>\nKau bilang jangan banyak tingkah<br \/>\nAku diam saja kau waspadai<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nKau suruh aku memegang prinsip<br \/>\nAku memegang prinsip kau tuduh aku kaku<br \/>\nKau suruh toleran<br \/>\nAku tolerah kau bilang aku plin-plan<br \/>\nAku harus bagaimana?<\/p>\n<p>Aku kau suruh maju<br \/>\naku mau maju kau srimpung kakiku<br \/>\nKaus suruh aku bekerja<br \/>\nAku bekerja kau ganggu aku<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana:<br \/>\nKau suruh aku takwa<br \/>\nKhutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa<br \/>\nKau suruh aku mengikutimu<br \/>\nLangkahmu tak jelas arahanya<br \/>\nAku harus bagaimana?<\/p>\n<p>Aku kau suruh menghormati hukum<br \/>\nKebijaksanaanmu menyepelekannya<br \/>\nAku kau suruh berdisiplin<br \/>\nKau menyontohkan yang lain<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nKau bilang Tuhan sangat dekat<br \/>\nKau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat<br \/>\nKau bilang kau suka bertikai<br \/>\nAku harus bagaimana?<\/p>\n<p>Aku kau suruh membangun<br \/>\nAku membangun kau merusakkannya<br \/>\nAku kau suruh menabung<br \/>\nAku menabung kau menghabiskannya<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nKau suruh aku menggarap sawah<br \/>\nSawahku kau tanami rumah-rumah<br \/>\nKau bilang aku harus punya rumah<br \/>\nAku punya rumah kau meratakannya dengan tanah<br \/>\nAku harus bagaimana?<\/p>\n<p>Aku kau larang berjudi<br \/>\nPermainan spekulasinya menjadi-jadi<br \/>\nAku kau suruh bertanggung jawab<br \/>\nKau sendiri terus berucap Wallahu a&#8217;lam bissawab<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nKau suruh aku jujur<br \/>\nAku jujur kau tipu aku<br \/>\nKau suruh aku sabar<br \/>\nAku sabar kau injak tengkukku<\/p>\n<p>Aku harus bagaimana?<br \/>\nAku kau suruh memilihmu sebagai wakilku<br \/>\nSudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu<br \/>\nKau bilang kau selalu memikirkanku<br \/>\naku sapa saja kau merasa terganggu<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana&#8221;<br \/>\nKau bilang bicaralah<br \/>\nAku bicara kau bilang aku ceriwis<br \/>\nKau bilang jangan banyak bicara<br \/>\naku bungkam kau tuduh aku apatis<\/p>\n<p>Aku harus bagaimana?<br \/>\nKau bilang kritiklah<br \/>\nAku kritik kau marah<br \/>\nKau bilang carikan alternatifnya<br \/>\nAku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana?<br \/>\nAku bilang terserah kau<br \/>\nKau tak mau<br \/>\nAku bilang terserah kita<br \/>\nKau tak suka<br \/>\nAku bilang terserah aku<br \/>\nKau Memakiku<\/p>\n<p>Kau ini bagaimana ?<br \/>\nAku harus bagaimana ?&#8221;.<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(2) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2H0yJv1\">http:\/\/bit.ly\/2H0yJv1<\/a>, \u00e2\u20ac\u0153Ohoi: Kumpulan Puisi-puisi Balsem<br \/>\nby A. Mustofa Bisri<\/p>\n<p>Paperback, 98 pages<br \/>\nPublished May 1991 by Pustaka Firdaus (first published 1988)<\/p>\n<p>Original Title Ohoi: Kumpulan Puisi-puisi Balsem<br \/>\nEdition Language Indonesian<br \/>\nOther Editions None found&#8221;.<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(3) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2Ixuwfl\">http:\/\/bit.ly\/2Ixuwfl<\/a>, \u00e2\u20ac\u0153Ganjar Pranowo-Taj Yasin Baca Puisi Gus Mus \u00e2\u20ac\u201c ROSI<\/p>\n<p>KOMPASTV<br \/>\nPublished on Mar 23, 2018<\/p>\n<p>Pasangan Cagub-Cawagub Jawa Tengah, Ganjar Pranowo-Taj Yasin, unjuk kebolehan dengan membacakan puisi ciptaan Gus Mus.&#8221;<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(4) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2JtPUU6\">http:\/\/bit.ly\/2JtPUU6<\/a>, @agungizzulhaq: \u00e2\u20ac\u0153Siap, maafkan atas kedunguan saya memahami kalimat tersebut. Dan saya tidak tahu itu tulisan Gus Mus, tidak mungkin saya merendahkan ulama. Itu semata2 krn kasus \u00e2\u20ac\u0153puisi konde&#8221; yg saya sesalkan,menjadikan sensi thdp penggalan kata tsb.Mohon dimaafkan\u00f0\u0178\u2122\u008f&#8221;<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u201d\u00e2\u20ac\u201d<\/p>\n<p>(5) <a href=\"http:\/\/bit.ly\/2uSP9k5\">http:\/\/bit.ly\/2uSP9k5<\/a>, @ganjarpranowo: \u00e2\u20ac\u0153Ijin saya follow ya mas&#8230; krn tabayun kita jadi bersilaturahmi&#8230; salam utk keluarga&#8221;.<\/p>\n<p>======<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/624992217833317\/\">https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/624992217833317\/<\/a><\/p>\n<p>                            <\/br><\/br> Original Source : <a href=\"https:\/\/stophoax.id\/blog\/post\/kader-pdi-perjuangan-membuat-puisi-yang-terkesan-mendeskreditkan-islam\" target=\"_blank\">https:\/\/stophoax.id\/blog\/post\/kader-pdi-perjuangan-membuat-puisi-yang-terkesan-mendeskreditkan-islam<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-73","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hoax-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}