{"id":518,"date":"2019-04-06T19:33:21","date_gmt":"2019-04-06T19:33:21","guid":{"rendered":"http:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=518"},"modified":"-0001-11-30T00:00:00","modified_gmt":"-0001-11-29T17:00:00","slug":"(EDUKASI)-Perihal-Kode-Etik-Jurnalistik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=518","title":{"rendered":"(EDUKASI) Perihal Kode Etik Jurnalistik"},"content":{"rendered":"<div>\n<article id=\"post-1937\" class=\"post-1937 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-lain-lain tag-edukasi tag-kode-etik-jurnalistik\">\n<header class=\"entry-header mh-clearfix\">\n<h1 class=\"entry-title\">(EDUKASI) Perihal Kode Etik Jurnalistik<\/h1>\n<p class=\"mh-meta entry-meta\">\n<span class=\"entry-meta-date updated\"><i class=\"fa fa-clock-o\"><\/i><a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2016\/01\/\">January 29, 2016<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-author author vcard\"><i class=\"fa fa-user\"><\/i><a class=\"fn\" href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/author\/mafindo-hb3gmail-com\/\">Muhammad Khairil<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-categories\"><i class=\"fa fa-folder-open-o\"><\/i><a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/category\/lain-lain\/\" rel=\"category tag\">Lain-lain<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-comments\"><i class=\"fa fa-comment-o\"><\/i><a class=\"mh-comment-scroll\" href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2016\/01\/29\/edukasi-perihal-kode-etik-jurnalistik\/#mh-comments\">0<\/a><\/span>\n<\/p>\n<\/header>\n<div class=\"entry-content mh-clearfix\">\n<figure class=\"entry-thumbnail\">\n<img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/pexels-photo-209305-2-678x381.jpeg\" alt=\"\" title=\"pexels-photo-209305\" \/><br \/>\n<\/figure>\n<p><strong>Tulisan dari Eko Juniarto, Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)<\/strong><\/p>\n<p>Di bawah ini adalah tulisan saya delapan tahun yang lalu tentang kode etik jurnalistik. Sembilan tahun yang lalu sudah disinyalir hanya 22 persen wartawan yang pernah membaca kode etik jurnalistik, dan makin ke sini sepertinya sudah di bawah 5 persen yang pernah membacanya. Contoh paling jelas adalah hard news\/breaking news di televisi diambil dari Twitter atau media sosial lainnya. Investigative journalism sudah merupakan barang langka sekarang ini, yang meraja-lela sekarang adalah sensational journalism.<\/p>\n<p><strong>Kode Etik Jurnalistik Harga Mati<\/strong><\/p>\n<p>Pernyataan Sekjen PWI Pusat, yang juga anggota Dewan Pers, Wina Armada SH di Solo beberapa waktu yang lalu (berdasarkan waktu penulisan ialah sekitar tahun 2008), &#8220;Ada wartawan yang sama sekali tidak pernah membaca kode etik jurnalistik.&#8221;<br \/>\nWina memang pernah melakukan penelitian di Jakarta. Temuannya, 19 persen dari keseluruhan wartawan yang jadi responden tidak pernah membaca kode etik jurnalistik.<\/p>\n<p><strong>Pers Pancasila, Pers Bermartabat<\/strong><\/p>\n<p>Celakanya, survei Dewan Pers tahun 2007 membuktikan ternyata hanya 22 persen wartawan di Indonesia yang pernah membaca Kode Etik jurnalistik. Sekitar 78 persen lainnya, jangankan menjalankan, membacapun belum pernah. Padahal KEJ adalah pedoman wartawan untuk melakukan kerja jurnalistik. Wartawan tidak membaca KEJ berdalih karena tak ikut organisasi Pers sehingga menganggap &#8216;Emang Gue Pikirin&#8217; (EGP) KEJ?<\/p>\n<p>Dalam UU No 40\/1999 tentang Pers pada pasal 7 (1) berbunyi wartawan bebas memilih organisasi, sayangnya diartikan Dewan Pers sebagai bisa bebas tak pilih organisasi apapun. Celakanya juga, hal ini dibaca sebagai bebas untuk tak menjalankan KEJ.<\/p>\n<p>Terlepas dari mana angka yang benar, apakah 19 persen atau 22 persen, keduanya menunjukkan bahwa memang kebanyakan wartawan indonesia tidak pernah membaca kode etik jurnalistik. Hal itu menyebabkan banyak muncul pemberitaan di media yang jelas-jelas melanggar kode etik ini. Dari hasil pencarian, ada dua kode etik jurnalistik di indonesia; kode etik jurnalistik PWI, dan kode etik jurnalistik AJI. Dari hasil mengumpulkan berbagai pemberitaan yang berhubungan dengan roy suryo (mengenai pandangannya tentang UU ITE pada tahun 2008), terlihat banyak sekali kode etik yang dilanggar.<\/p>\n<p><strong>Pasal yang dilanggar dari kode etik jurnalistik PWI:<\/strong><\/p>\n<p>Pasal 3<br \/>\nWartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnallistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional.<\/p>\n<p>Pasal 5<br \/>\nWartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya.<\/p>\n<p>Pasal 7<br \/>\nWartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang.<\/p>\n<p>Pasal 11<br \/>\nWartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita.<\/p>\n<p><strong>Pasal yang dilanggar dari kode etik jurnalistik AJI:<\/strong><\/p>\n<p>Pasal 1<br \/>\nJurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.<\/p>\n<p>Pasal 2<br \/>\nJurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.<\/p>\n<p>Pasal 3<br \/>\nJurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.<\/p>\n<p>Pasal 16<br \/>\nJurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.<\/p>\n<p>Menurut saya, ini adalah kondisi yang menyedihkan di indonesia. pihak yang tidak dekat dengan pers, akan sangat mudah menjadi korban fitnah pihak yang menjaga kedekatan dengan pers, sebagai contoh pihak yang rajin mengirimi wartawan SMS menginformasikan kegiatan sehari-harinya.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ryosaeba.wordpress.com\/2008\/04\/02\/kode-etik-jurnalistik\/\">https:\/\/ryosaeba.wordpress.com\/2008\/04\/02\/kode-etik-jurnalistik\/<\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/235879540077922\/\">https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/235879540077922\/<\/a><\/p>\n<p>\t<\/br><\/br> Original Source : <a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2016\/01\/29\/edukasi-perihal-kode-etik-jurnalistik\/\" target=\"_blank\">https:\/\/turnbackhoax.id\/2016\/01\/29\/edukasi-perihal-kode-etik-jurnalistik\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(EDUKASI) Perihal Kode Etik Jurnalistik January 29, 2016 Muhammad Khairil Lain-lain 0 Tulisan dari Eko Juniarto, Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Di bawah ini adalah tulisan saya delapan tahun yang lalu tentang kode etik jurnalistik. Sembilan tahun yang lalu sudah disinyalir hanya 22 persen wartawan yang pernah membaca kode etik jurnalistik, dan makin ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6898,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hoax-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/518"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6898"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}