{"id":3743,"date":"2019-04-06T19:34:39","date_gmt":"2019-04-06T19:34:39","guid":{"rendered":"http:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=3743"},"modified":"-0001-11-30T00:00:00","modified_gmt":"-0001-11-29T17:00:00","slug":"[DISINFORMASI]-\"Kita-ketawain-aja-HOAKnya-kaum-bumi-datar\";","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/?p=3743","title":{"rendered":"[DISINFORMASI] &#8220;Kita ketawain aja HOAKnya kaum bumi datar&#8221;;"},"content":{"rendered":"<div>\n<article id=\"post-1785\" class=\"post-1785 post type-post status-publish format-standard hentry category-fitnah-hasut-hoax\">\n<header class=\"entry-header mh-clearfix\">\n<h1 class=\"entry-title\">[DISINFORMASI] &#8220;Kita ketawain aja HOAKnya kaum bumi datar&#8221;<\/h1>\n<p class=\"mh-meta entry-meta\">\n<span class=\"entry-meta-date updated\"><i class=\"fa fa-clock-o\"><\/i><a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2017\/11\/\">November 4, 2017<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-author author vcard\"><i class=\"fa fa-user\"><\/i><a class=\"fn\" href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/author\/mafindo-hb4gmail-com\/\">Bentang Febrylian<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-categories\"><i class=\"fa fa-folder-open-o\"><\/i><a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/category\/fitnah-hasut-hoax\/\" rel=\"category tag\">Fitnah \/ Hasut \/ Hoax<\/a><\/span><br \/>\n<span class=\"entry-meta-comments\"><i class=\"fa fa-comment-o\"><\/i><a class=\"mh-comment-scroll\" href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2017\/11\/04\/disinformasi-kita-ketawain-aja-hoaknya-kaum-bumi-datar\/#mh-comments\">0<\/a><\/span>\n<\/p>\n<\/header>\n<div class=\"entry-content mh-clearfix\">\n<p><strong>&#8220;Boni juga mengakui, dia sempat salah menuliskan keterangan tentang pendidikan Sebastian. Mulanya Boni menulis Sebastian adalah murid kelas IV SDN 16 Ciracas, padahal Sebastian merupakan murid kelas III SDN 16 Pekayon. Kepada Tirto, pihak SDN 16 Pekayon mengonfirmasi bahwa Joseph Sebastian Zebua merupakan salah satu murid di sana.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p><strong>=SUMBER=<\/strong><br \/>\n<strong>(1)<\/strong> Post dari salah satu anggota yang sudah dibantu klarifikasi tetapi tidak segera disunting.<br \/>\n<strong>(2)<\/strong> https:\/\/goo.gl\/D7rp3a, akun &#8220;Kristologi Raport Merah&#8221;. Sudah dibagikan 1.080 kali ketika tangkapan layar dibuat.<\/p>\n<p><strong>=NARASI=<\/strong><br \/>\n&#8220;Kita ketawain aja HOAKnya kaum bumi datar&#8221;<br \/>\n&#8220;Ini anak siapa<br \/>\n-gbr nyolong di google<br \/>\n-yg penting cina<br \/>\n-matanya sifit<br \/>\n-kulit putih&#8221;<br \/>\n&#8220;SD nya fiktif<br \/>\nTernyata cuma sampai SDN 15<br \/>\nciracas&#8221;<br \/>\n&#8220;Disangkanya kita benci Cina Pdhl kita cuma anti penista agama yg kebetulan Orang cina&#8221;<br \/>\n&#8220;Bani hoax<br \/>\nSempat beredar kabar &#8220;seorang siswa non Muslim yang bersekolah di SDN 16 Ciracas yang bernama Joseph Sebastian Zebua dianiaya karena perbedaan etnis dan perbedaan agama oleh teman-temannya sampai trauma dan tidak berani lagi bersekolah&#8221;<br \/>\nTernyata ? H O A X<br \/>\nyang lebih ironis lagi, media Turbin (wartakota itu bagian dari turbin :p ) yang pertama menyebarkan kehebohan berita tersebut sampai menjadi viral.<br \/>\nCacian deh loh&#8230;&#8221;.<\/p>\n<p><strong>=PENJELASAN=<\/strong><br \/>\n&#8220;Boni juga mengakui, dia sempat salah menuliskan keterangan tentang pendidikan Sebastian. Mulanya Boni menulis Sebastian adalah murid kelas IV SDN 16 Ciracas, padahal Sebastian merupakan murid kelas III SDN 16 Pekayon. Kepada Tirto, pihak SDN 16 Pekayon mengonfirmasi bahwa Joseph Sebastian Zebua merupakan salah satu murid di sana.&#8221;<\/p>\n<p><strong>=REFERENSI=<\/strong><br \/>\n<a href=\"https:\/\/goo.gl\/mx5VCB\">https:\/\/goo.gl\/mx5VCB<\/a>, &#8220;Bagaimana Bastian Zebua Mengalami Bullying SARA?<br \/>\nIlustrasi bullying. Getty Images\/iStockPhoto 183 Shares<br \/>\nReporter: Husein Abdulsalam<br \/>\n01 November, 2017 dibaca normal 4:30 menit<br \/>\nJoseph Sebastian Zebua dirisak temannya di sekolah dengan kata &#8220;Ahok&#8221; dan &#8220;kafir&#8221;.<br \/>\nPernyataan Bearo Zalukhu tentang bullying berbau SARA yang menimpa keponakannya sempat dituduh hoax. Apa yang sebenarnya terjadi?<br \/>\ntirto.id &#8211; Bonivasius Bearo Zalukhu berbicara pelan. Pada Selasa (31\/10), di sebuah warung nasi di depan Kepolisian Sektor (Polsek) Pasar Rebo, Jakarta Timur, laki-laki yang akrab dipanggil Boni itu sedang beristirahat usai memberikan keterangan selama lebih dari 3 jam kepada Polsek Pasar Rebo terkait pernyataannya di Facebook.<br \/>\nPada Senin (30\/10) pagi, melalui akun Facebooknya, perantau asal Nias itu mengungkap perisakan (bullying) berbasis SARA yang dialami keponakannya, Josep Sebastian Zebua, murid SDN 16 Pekayon, Jakarta Timur.<br \/>\nBoni mendapatkan informasi saat bertandang ke rumah kakaknya, Albina Averina Zalukhu \u00e2\u20ac\u201c ibu Joseph Sebastian Zebua \u00e2\u20ac\u201c di daerah Ciracas, Jakarta Timur, Senin (30\/10). Averina yang bercerita Sebastain tidak mau masuk sekolah karena kerap dirisak teman-temannya. Melalui Averina itulah, Boni mendapat cerita Sebastian sering dipanggil \u00e2\u20ac\u0153Ahok&#8221;, \u00e2\u20ac\u0153Kafir&#8221;, dan puncaknya telapak tangan Sebastian ditusuk dengan pulpen oleh temannya.<br \/>\nBaca juga: Anak-anak Rentan Terpapar Virus SARA dan Radikalisme<br \/>\nKata Boni, dia tidak berpikir untuk langsung melaporkan kepada KPAI atau instansi terkait karena ketiadaan akses.<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Saya nggak punya akses dan kepintaran untuk ke sana, atau yang menemani saya ke sana. Lebih baik saya menulis di Facebook sambil menyebut pihak terkait. Semoga mereka tahu dan mereka tindak lanjuti. Ternyata ada hasilnya saat ini,&#8221; ujar Boni. \u00e2\u20ac\u0153Biar ngga ada lagi korban selanjutnya. Bukan ingin buat gaduh, atau ingin viral,&#8221; tegas Boni.<br \/>\nDua puluh satu jam setelah diunggah, 3500-an komentar memenuhi pernyatan Boni \u00e2\u20ac\u201c beberapa di antaranya menyebut Boni sedang menyebar hoax. Sementara itu, pernyataan Boni telah disukai (like) oleh 6.500-an akun dan 5.271 kali dibagikan.<br \/>\nPerisakan Memang Terjadi<br \/>\nKetidaksinambungan atau perubahan pernyataan dalam unggahannya di Facebook membuat beberapa akun menuduh Boni telah menyebar hoax.<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Saya memang tambahkan beberapa hal. Awalnya saya hanya tulis kepada &#8216;Negara Republik Indonesia&#8217;. Lalu saya tambahkan &#8216;Presiden Republik Indonesia&#8217; dan &#8216;Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan&#8217;. Terus saya masukkan &#8216;KPAI&#8217;. Itu tidak saya kurangi tetapi saya tambahkan, supaya menjadi lengkap,&#8221; ungkap Boni sambil sesekali meghisap rokok yang dibakarnya beberapa menit yang lalu pelan-pelan.<br \/>\nBoni juga mengakui, dia sempat salah menuliskan keterangan tentang pendidikan Sebastian. Mulanya Boni menulis Sebastian adalah murid kelas IV SDN 16 Ciracas, padahal Sebastian merupakan murid kelas III SDN 16 Pekayon. Kepada Tirto, pihak SDN 16 Pekayon mengonfirmasi bahwa Joseph Sebastian Zebua merupakan salah satu murid di sana.<br \/>\nBaca juga: Mencegah Anak-anak Melakukan Bullying Berbasis SARA<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Itu salah satu kesalahan. Saya juga memohon maaf atas kesalahan itu karena dalam pemikiran saya hanya &#8216;SDN 16&#8217; saja. Wilayah &#8216;Ciracas&#8217; saya sebut karena saya ingat rumah Sebastian ada di wiayah Ciracas. Setelah itu saya edit menjadi &#8216;SDN 16 Pekayon&#8217;. Saya juga salah menulis soal kelas Sebastian. Saya tulis Sebastian kelas IV, padahal kelas III,&#8221; ujar Boni.<br \/>\nBoni menyatakan kejadian itu bukan untuk membohongi, tetapi semata-mata karena kurang teliti saja.<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Tetapi yang mau saya tekankan, yang saya tulis itu (perisakan terhadap Sebastian) benar adanya,&#8221; tegas Boni.<br \/>\nPerisakan karena Hiperaktif?<br \/>\nKala Averina sedang dimintai keterangan oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polsek Pasar Rebo, Sebastian berlari ke sana ke mari.<br \/>\nSebastian sukar diam. Kadang dia menghampiri seorang anggota tim investigasi Polda Metro Jaya, kadang dia pergi ke area berkumpulnya anggota keluarganya. Tirto sempat menanyakan alasan Sebastian ingin pindah sekolah. Sembari tersenyum dia hanya menjawab, &#8220;Mau pindah saja&#8221;, tidak kurang tidak lebih.<br \/>\nMenurut Averina, Sebastian tidak mau melanjutkan bersekolah di SDN 16 Pekayon karena diolok-olok, tidak hanya dengan kata &#8220;kafir&#8221; tetapi juga dengan kata \u00e2\u20ac\u0153Ahok&#8221; yang merujuk penampakan fisik yang dinilai menyerupai orang-orang Tionghoa (padahal marga Zebua pada nama Sebastian menandakan dia keturunan Nias).<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Sebastian itu tidak sekolah kurang lebih dua minggu ini. Seminggu ini saya rayu agar dia mau sekolah. Tapi Sebastian bilang &#8216;Aku takut&#8217;. Dia dikatai &#8216;Ahok&#8217;, &#8216;kafir&#8217;. Saya juga sudah nasehati dia, saya bilang kalau kamu itu Nias,&#8221; ujar Averina.<br \/>\nSalah seorang guru di SDN 16 Pekayon mengungkapkan insiden antara Sebastian dan teman-temannya pada mulanya adalah peristiwa sehari-hari yang kerap terjadi di dunia anak-anak. Tendensi perisakan memang terjadi sebagai respons dari, menurut pihak sekolah, perangai Bastian yang cenderung sangat aktif. Namun eskalasinya menjadi lain karena melibatkan ekspresi yang menghidupkan sentimen SARA.<br \/>\nBaca juga: Anak yang Doyan Jumpalitan adalah Anak Cerdas<br \/>\nTirto mendapatkan keterangan tentang perangai Bastian yang &#8220;hiperaktif&#8221;. Perangai itu disebutkan oleh pihak kepolisian maupun beberapa guru SDN 16 Pekayon yang hadir di Polsek Pasar Rebo. Perangai Sebastian yang sangat aktif dan tidak bisa diam dinilai sebagai prakondisi yang memancing temannya merisak.<br \/>\nAmanda Morin, dalam \u00e2\u20ac\u0153Understanding Your Child&#8217;s Trouble With Hyperactivity&#8221;, menerangkan salah satu penyebab seorang anak hiperaktif adalah attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), kondisi yang ditentukan oleh otak yang sering menyebabkan anak bergerak dan berbicara tanpa henti. Menurutnya 30 sampai 50 persen anak-anak dengan ADHD yang juga memiliki oppositional defiant disorder (ODD) bermasalah mengatur emosinya. Mereka sering berdebat dengan orang dewasa dan teman sebaya, menolak melakukan apa yang diminta, dan terkadang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan gagasan umum tentang apa yang benar dan salah.<br \/>\nWiener menambahkan, anak-anak dengan ADHD lebih rentan menjadi korban perisakan ketimbang menjadi pelaku karena perangainya dapat mengganggu teman sebaya. Anak-anak dengan ADHD digambarkan belum dewasa secara sosial, karena mereka sering tidak memiliki keterampilan sosial seperti fleksibilitas dan kemauan berkompromi.<br \/>\nNamun anak-anak yang aktif menjelajahi ruangan ke sana ke mari tidak serta merta langsung dapat dinilai hiperaktif atau menyandang ADHD. Karena label hiperaktif itu mudah dipakai, anak-anak yang mungkin gelisah atau memiliki gerakan berlebihan saat melakukan hal-hal kecil pun mudah dibilang anak dengan ADHD.<br \/>\nPadahal menilai seseorang sebagai anak ADHD tidak sesederhana itu. Perlu serangkaian tes dan diagnosa untuk memastikan anak yang tidak bisa diam sebagai penyandang ADHD. Selain mengumpulkan keterangan dari orang tua dan guru, gejala ADHD juga perlu diuji melalui tes seperti CPT-TOVA (Continuous Performance Test- Test of Variable of Attention).<br \/>\nBagaimana Bastian Zebua Mengalami Bullying SARA?share infografik<br \/>\nSebastian Pindah Sekolah<br \/>\nTak lama setelah pernyataan Boni viral di media sosial, anggota Banser NU Ustad Abu Janda memanggil (mention) Boni melalui kolom komentar. Dia memohon klarifikasi kasus Sebastian. \u00e2\u20ac\u0153Akhirnya saya kirim (inbox) nomor ponsel saya kepada ustad. Dia bilang akan ada orang LBH (Lembaga Bantuan Hukum) GP Ansor yang akan mendampinginya untuk (proses) hukum,&#8221; ingat Boni.<br \/>\nDari situlah Boni dan Averina dipertemukan dengan anggota LBH GP Ansor Achmad Budi Prayoga yang akhirnya menjadi kuasa hukumnya. Kepada Tirto, Achmad menjelaskan pendampingan utama yang dilakukan bertujuan agar Sebastian bisa melanjutkan sekolahnya.<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Dari pihak keluarga ingin Sebastian untuk pindah sekolah karena Sebastian sudah merasa tidak nyaman bersekolah di SDN 16 Pekayon. Pihak sekolah sudah dipanggil, kita sudah bicara banyak. Ini hanya perlu komunikasi yang intens dari pihak sekolah dengan para wali murid,&#8221; ujar Achmad.<br \/>\nRencananya Sebastian akan pindah ke SD Ignatius Slamet Riyadi. Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Wiyono menjelaskan komunikasi antara kepala sekolah SDN 16 Pekayon dengan SD Slamet Riyadi sedang dilakukan. Proses pindah sekolah itu pun akan dibantu oleh Pastur Paroki Cijantung Romo Andreas.<br \/>\nBaca juga: Yuk Jadi Pendamping Membaca Bagi Anak-anak<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Karena pelakunya sesama anak-anak, kami melihat anak-anak perlu edukasi dan sosialisasi mengenai kebhinekaan di Indonesia. Harapannya tidak ada lagi sentimen-sentimen SARA di sekolah-sekolah. Kita mengupayakan penyelesaian kekeluargaan. Saya kira itu hal yang terbaik. Keluarga Sebastian sendiri juga menginginkan diselesaikan secara kekeluargaan,&#8221; ujar Achmad.<br \/>\nAchmad menduga kasus-kasus serupa sebenarnya banyak terjadi, akan tetapi tidak terungkap secara masif.<br \/>\nKendati perisakan tidak dibenarkan, tetapi &#8220;kenakalan&#8221; memang bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Bagaimana &#8220;kenakalan&#8221; diekspresikan itulah yang, dalam kasus Bastian, mencerminkan bagaimana dunia anak-anak terimbas oleh apa yang terjadi di dunia orang-orang dewasa.<br \/>\n\u00e2\u20ac\u0153Ini perlu jadi perhatian kita bersama supaya kepala sekolah dan wali murid memberikan edukasi mengenai toleransi dan kebhinekaan,&#8221; ujar Achmad.<br \/>\nSelepas magrib, Sebastian, Averina, dan Boni bertemu dengan para murid yang diduga melakukan perisakan terhadap Sebastian. Masing-masing didampingi para orang tuanya. Pertemuan tersebut dimediasi oleh Kepolisian Pasar Rebo, KPAI, dan pihak SDN 16 Pekayon. Sejumlah poin disepakati, antara lain kedua pihak berdamai dan tidak akan membawa kasus ini ke ranah pengadilan.<br \/>\nBaca juga artikel terkait BULLYING atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam<br \/>\n(tirto.id &#8211; hsa\/zen)&#8221;.<\/p>\n<p>SUMBER: <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/550686111930595\/\">https:\/\/www.facebook.com\/groups\/fafhh\/permalink\/550686111930595\/<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1786\" src=\"https:\/\/www.turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/01-jsz.png\" alt=\"\" width=\"524\" height=\"841\" srcset=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/01-jsz.png 524w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/01-jsz-187x300.png 187w\" sizes=\"(max-width: 524px) 100vw, 524px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1787\" src=\"https:\/\/www.turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/02-jsz.png\" alt=\"\" width=\"523\" height=\"841\" srcset=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/02-jsz.png 523w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/02-jsz-187x300.png 187w\" sizes=\"(max-width: 523px) 100vw, 523px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1788\" src=\"https:\/\/www.turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/03-jsz.png\" alt=\"\" width=\"522\" height=\"187\" srcset=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/03-jsz.png 522w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/03-jsz-300x107.png 300w\" sizes=\"(max-width: 522px) 100vw, 522px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1789\" src=\"https:\/\/www.turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/04-jsz.png\" alt=\"\" width=\"1043\" height=\"840\" srcset=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/04-jsz.png 1043w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/04-jsz-300x242.png 300w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/04-jsz-768x619.png 768w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/04-jsz-1024x825.png 1024w\" sizes=\"(max-width: 1043px) 100vw, 1043px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1791\" src=\"https:\/\/www.turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/05-jsz-1.png\" alt=\"\" width=\"1019\" height=\"840\" srcset=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/05-jsz-1.png 1019w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/05-jsz-1-300x247.png 300w, https:\/\/turnbackhoax.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/05-jsz-1-768x633.png 768w\" sizes=\"(max-width: 1019px) 100vw, 1019px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\t<\/br><\/br> Original Source : <a href=\"https:\/\/turnbackhoax.id\/2017\/11\/04\/disinformasi-kita-ketawain-aja-hoaknya-kaum-bumi-datar\/\" target=\"_blank\">https:\/\/turnbackhoax.id\/2017\/11\/04\/disinformasi-kita-ketawain-aja-hoaknya-kaum-bumi-datar\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[DISINFORMASI] &#8220;Kita ketawain aja HOAKnya kaum bumi datar&#8221; November 4, 2017 Bentang Febrylian Fitnah \/ Hasut \/ Hoax 0 &#8220;Boni juga mengakui, dia sempat salah menuliskan keterangan tentang pendidikan Sebastian. Mulanya Boni menulis Sebastian adalah murid kelas IV SDN 16 Ciracas, padahal Sebastian merupakan murid kelas III SDN 16 Pekayon. Kepada Tirto, pihak SDN 16 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6900,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-3743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hoax-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3743"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3743"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3743\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syyhoaxanalyzer.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}